Media Dakwah, Cahaya Islam

Selasa, 29 Maret 2016

Bagaimana Jika Naik Haji dengan Uang Hasil Korupsi ?

Cahaya Tausiah - Para ulama sepakat, riba merupakan salah satu dari perbuatan dosa besar. Termasuk di dalamnya adalah bunga bank, bahkan mayoritas ulama sepakat memandang bunga bank adalah riba, maka hukumnya haram. Pertemuan 150 ulama terkemuka dalam Konferensi Penelitian Islam di bulan Muharram 1385 H, atau Mei 1965 di Kairo, Mesir menyepakati secara aklamasi bahwa segala keuntungan atas berbagai macam pinjaman merupakan praktik riba yang diharamkan, termasuk bunga bank.


Berbagai forum ulama internasional, seperti Majma’ al-Fiqh al-Islamy Negara-negara OKI, Rabithah al-‘Alam al-Islamy, Majma’ul Buhuts al-Islamiyah al-Azhar Mesir dan yang lainnya juga mengeluarkan fatwa pengharaman bunga bank. Begitu pula pandangan Majelis Ulama Indonesia atas pengharaman bunga dengan berdasarkan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta kesepakatan para ulama. Seperti tercantum dalam surat Al-Baqarah ayat 275, Allah swt mengharamkan riba. Pembahasan tentang riba masih diuraikan hingga empat ayat selanjutnya.

“Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasulnya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu, kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya,” (QS Al-Baqarah [2]: 279).

Dalam beberapa hadits shahih, di antaranya riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah saw melaknat pemakan riba, yang memberi makan dengan hasil riba dan dua orang yang menjadi saksinya, beliau bersabda, “Mereka itu sama” (HR Muslim).

Dengan begitu, orang yang hendak mencari pekerjaan mesti menghindari bekerja di bank konvensional, apalagi saat ini sudah banyak berdiri bank syariah. Hukumnya tidak lagi bersifat darurat. Sebab, salah satu dari keberkahan harta adalah dari kehalalan cara memperoleh dan mendapatkannya.

Lalu bagaimana dengan mereka yang telanjur bekerja di bank konvensional, di tambah lagi kini mencari pekerjaan tidaklah mudah, dan ada tanggungan keluarga yang harus dinafkahi? Dalam hal ini, fatwa Dr Yusuf Al-Qaradhawi bisa dijadikan pedoman.

Al-Qaradhawi mengharamkan, namun dalam soal gaji pegawai bank, ulama asal Mesir ini menyatakan bahwa apabila pegawai tersebut bekerja karena tidak ada pekerjaan di tempat lain, maka ia dalam kondisi darurat.

Dalam Islam, kondisi darurat dapat menghalalkan perkara yang asalnya haram. Pada saat terpaksa bekerja di bank konvensional ini, maka diharapkan ia benar-benar menguasai sistem perbankan. Kelak ketika dia mendapatkan pekerjaan pada bank syariah, ia telah memiliki pengalaman, atau ia dapat mengubah perbankan yang tidak Islami menjadi perbankan syariah. Tentu saja, dari penghasilan yang diperoleh itu, jangan lupa keluarkan zakatnya, serta perbanyak infak dan sedekah. Wallahu'alam.

Pengasuh fiqih Wanita Majalah Ummi: Dra Herlini Amran, MA. Lulusan S2 Wefaq ul Madarise al-Salafia Faisal Abad, Pakistan, jurusan Arabic & Islamic Studies (sumber: Ummionline)

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Bagaimana Jika Naik Haji dengan Uang Hasil Korupsi ?

0 komentar:

Posting Komentar