Media Dakwah, Cahaya Islam

Sabtu, 02 April 2016

Apakah Sah Jika Naik Haji dengan Uang Haram ?

Cahaya Tausiah - Sahabat, dewasa ini makin banyak orang yang meremehkan efek uang haram, bagi mereka uang haram dan halal tidak ada bedanya, akhirnya uang hasil korupsi atau mendapatkan dana dari proyek tak jelas pun bisa digunakan sebagai ongkos naik haji tanpa merasa bersalah. Bagaimana hukumnya? Sah kah haji yang dilakukan?



Kita awali dulu dengan pembahasan mengenai uang haram, benarkah ada yang disebut dengan uang haram?

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil …” (QS. Al-Baqarah [2] : 188)

Sesuatu dikatakan haram jika memenuhi kriteria berikut. Pertama: apabila wujud/asalnya benda itu memang haram (seperti daging babi, minuman keras). Kedua: Apabila cara mendapatkannya bathil, meskipun wujud/asalnya halal (seperti kurma hasil sogokan, uang hasil korupsi).

Jelas bahwa uang yang diperoleh dari hasil korupsi bisa dikatakan sebagai uang haram karena didapatkan dengan cara bathil. Lalu, jika uang haram ini dipergunakan untuk membangun masjid atau bahkan menunaikan kewajiban ibadah haji, bagaimana hukumnya?

Dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik. Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula.” (HR. Muslim)

Ada 2 pendapat mengenai hal ini:

Pertama, hajinya sah dan menggugurkan kewajiban haji, namun orang yang berhaji dengan uang haram tersebut berdosa dan tak mendapatkan pahala haji.

Inilah pendapat jumhur ulama, yaitu pendapat ulama Hanafiyah dan Syafi’iyah, juga satu versi pendapat dalam mazhab Maliki dan Hambali.(Ibnu Abidin, Hasyiyah Radd Al Muhtar, 3/453; Al Qarafi, Al Furuq, 2/85; Al Wansyarisi, Al Mi’yar, 1/440; Al Hithab, Mawahib Al Jalil, 3/498; An Nawawi, Al Majmu’, 7/51; Ibnu Rajab, Al Qawa’id, hlm. 13).    

Dalilnya, karena sahnya haji bergantung pada rukun dan syarat haji, bukan pada halal haramnya harta yang digunakan. Imam Ibnu Abidin mengatakan berhaji dengan harta haram sama halnya dengan orang yang sholat di tanah rampasan (maghshubah), yakni sholatnya sah selama memenuhi rukun dan syaratnya, tapi dia berdosa dan tak mendapat pahala (bi-laa tsawab).” (Ibnu Abidin, Hasyiyah Radd Al Muhtar, 3/453).

Kedua, hajinya tak sah, berdosa, dan tak mengugurkan kewajiban haji, sehingga orang tersebut tetap memiliki kewajiban untuk berhaji dengan uang yang halal. Inilah versi pendapat lainnya dalam mazhab Maliki dan Hambali.

Dalilnya antara lain sabda Rasulullah SAW: (artinya),”Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Mahabaik (thayyib) dan tidak menerima kecuali yang baik.” (HR Muslim, no 1015). (Al Wansyarisi, Al Mi’yar, 1/439; Al Hithab, Mawahib Al Jalil, 3/498; Ibnu Rajab, Al Qawa’id, hlm. 13).

Akan tetapi pendapat yang rajih (kuat) adalah pendapat jumhur, yaitu hajinya sah dan mengugurkan kewajiban haji, namun orang tersebut tetap dosa dan tak mendapat pahala haji.

Hal ini dikarenakan meski memanfaatkan harta haram itu dosa, namun keharaman harta tidak mempengaruhi keabsahan haji karena kehalalan harta tidak termasuk syarat sah haji. Jadi hajinya sah selama memenuhi rukun dan syarat haji, walaupun harta yang digunakan haram.

Imam Nawawi berkata,”Jika seseorang berhaji dengan harta yang haram, atau naik kendaraan rampasan, maka dia berdosa namun hajinya sah… dalil kami karena haji adalah perbuatan-perbuatan yang khusus, sedang keharaman harta yang digunakan adalah hal lain di luar perbuatan-perbuatan haji itu.” (An Nawawi, Al Majmu’, 7/51).

Adapun hadits riwayat Muslim di atas, yang dimaksud Allah “tidak menerima” bukanlah “tidak sah”, melainkan “tidak memberi pahala.”

Demikianlah, semoga kita bukanlah termasuk orang-orang yang mencampurkan kebaikan dengan keburukan. Jauhilah harta haram karena hal tersebut takkan membawa keberkahan apalagi kebanggaan di hadapan Allah. (ummi-online)

Wallaahualam.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Apakah Sah Jika Naik Haji dengan Uang Haram ?

0 komentar:

Posting Komentar